Menjaring Konstituen di Jagat Maya PDF Cetak E-mail
Oleh Deydi Mokoginta   
Selasa, 21 Oktober 2008 04:02

Oleh Rini S Danudjaya

HAMPIR tiap hari, politikus Partai Golkar Ferry Mursyidan Baldan rajin meng-update aktivitas kese-hariannya di situs web jaringan sosial bernama Face-book. Mulai dan rapat, seminar/diskusi, kunjungan kerja, silaturahmi, dan wawancara dengan pers. Anggota Komisi II DPR ini memasukkan pula artikel atau tulisan berkaitan dengan dirinya di berbagai media massa. Tak lupa, di situs yang kini tengah digandrungi kawula muda ini, Ferry memasang foto-foto dari kegiatannya itu.


Nampak sepele memang. Namun dari hobi barunya itu, publik di dunia maya bisa tahu profit pribadi, gaya hidup, gagasan maupun pandangan dan sikap Ferry atas peristiwa, kasus atau isu tertentu. Dari sinilah, public yang berpotensi menjadi kostituen atau pemilih dalam Pemilu 2009 akhirnya menilai kapasitas dan integritas Ferry Sebagai calon legislatif (caleg). Meski Ferry tak secara gamblang mengakui memanfaatkan Facebook sebagai ajang kampanye, melainkan hanya untuk membina pertemanan. Sampai kini jumlah jejaring pertemanan Ferry mencapai 2.256 orang.
Selain Ferry, ada sederet politikus dan tokoh lain justru terang-terangan menjadikan situs internet seperti Face-book, Friendster, You Tube atau blog Sebagai ajang kampanye, untuk meraih suara di Pemilu 2009. Sebut saja Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua Gerakan Nasional Ca-ton Independen M. Fadjroel Rachman, Direktur Ekse-kutif Freedom Institute Rizal Mallarangeng, Khofifah Indar Parawansa, anggota DPD M.
Ichsan Loulembah, Yushl Ihza Mahendra dan Ketua Partai Ama-nat Nasional (PAN) Soetrisno Bac-hir. Sampai sekarang para tokoh dan politikus yang siap maju di ajang Pemilu 2009 itu mampu menjaring ratusan hingga ribuan teman.
Sayangnya, sebagian besar dari mereka belum memanfaatkan secara optimal ruang yang disediakan oleh komunikasi digital generasi Web 2.0 (baca: web-to-0). Dalam era ketika internet atau situs menyodorkan informasi secara dua arah (penerbit dan pembacanya) ini, mereka masih terkesan “menyodori” publik untuk memahami jalan pikiran atau sikap politik mereka.
Bukan sebaliknya, menggali seba-nyak mungkin persoalan dan unek-unek yang terjadi di tengah mas-yarakat, untuk kemudian memilah-nya dan mengemas menjadi pesan-pesan politik yang cantik dan me-nyentuh emosi publik. Sebagai per-bandingan, Barack Obama sukses memanfaatkan intemet sebagai ajang kampanye dalam proses pe-milihan nominasi (Konvensi Nasio-nal) calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat, mengalahkan rivalnya Hillary Clin-ton. Obama memilih langkah pintar dengan mengoptimalkan sernua aresenalnya di dunia Web 2.0 beru-pa situs Pribadi, blog, dan situs jeja-ring sosial seperti Facebook, MySpace, Friendster, Blogosphere dan You Tube.
Tragedi topan Gustaf yang me-landa di wilayah New Orleans, Louisiana dan Teluk Meksiko mi-salnya, “disulap” oleh Obama men-jadi sebuah political marketing yang cantik. la mengirim e-mail ke selu-ruh pendukungnya dengan tajuk ‘Help Gulf Coast Resident and First Responders Hurricane Gustaf” , yang intinya mengajak pendukungnya untuk melakukan sesuatu bagi korban topan Gustaf dan memberikan donasi untuk meringankan beban para korban. Ini menjadi contoh kepekaan Obama dalam melihat sebuah momen yang tengah terjadi di masyakarat (AS), dan dengan cepat menjahitnya menjadi pesan sosial.
Didukung oleh realitas bahwa in-ternet dan jejaring sosial yang ada di dunia maya telah menjadi kebu-tuhan utama publik Amerika. De-ngan penetrasi internet di AS men-capai 69%, lebih tinggi dibanding rata-rata jumlah pemilih Pemilu AS yang kurang dari 50%. Make tak disangsikan lagi bahwa di Amerika target pemilih bisa dikatakan cukup identik dengan pengguna internet.
Berbeda dengan Indonesia, dimana pengguna internet bisa jadi bukan target pemilih saat ini. Penetrasi internet di Indonesia masih sekitar 9,8 persen, belum signifikan bila dibandingkan dengan jumlah pemilih. Itu pun mereka umumnya berangkat dan kalangan terdidik dan kritis, yang suitt dijejali pidato-pidato politik. Tetapi bukan berarti mereka tidak bisa dimanfaatkan.
Yang diperlukan adalah bagaimana para tokoh dan politikus yang siap maju ke Pemilu 2009 membuat sebuah strategi political marketing yang cantik, jitu dan tepat sasaran melalui dunia maya. Publik di dunia maya membutuhkan pesan-pesan cerdas dan simpatik sehingga menyakininya Sebagai sebuah jalan keluar menuju perubahan.(Majelis Edisi No 17/TH.II September 2008)

 

Terakhir Diupdate ( Senin, 20 Oktober 2008 05:03 )
 

Tampilan Cetak

Pengunjung

Terdapat 2 Tamu online