|
Sulut Belum Terpengaruh Manado—Gubernur Sulut Drs Sinyo H Sarundajang menyata-kan, terjadinya krisis perekono-mian global saat ini belum berpengaruh bagi jalannya roda ekonomi yang ada di daerah ini. Buktinya, adanya krisis terse-but belum menimbulkan gejo-lak-gejolak di masyarakat hing-ga saat ini, seperti naiknya se-jumlah harga bahan pangan dan hasil komoditi lainnya. “Namun hal ini bukan berarti tidak diantisiapasi oleh peme-rintah daerah. Tentunya, den-gan terjadinya krisis ekonomi global ini, kita sudah me-nyiapkan benteng pertahanan ekonomi kita miliki untuk meng-hadapi dampak dan imbasnya.
Kalau ada yang bilang kita tidak mengantisipasinya, itu omong kosong. Karena kita telah melakukan antisipasi,” terangnya. Dijelaskannya, antisipasi mengahadapi krisis moneter tersebut telah dilakukan dengan berbagai cara. Antara lain adalah, pertaha-nan ekonomi yang dimiliki oleh daerah ini masih cukup terjaga dengan baik. “Hasil ini adalah dari suksesnya pelaksanaan program revitalisasi pertanian yang telah kita lakukan sejak beberapa tahun terakhir ini. Serta laporan-laporan dari masyarakat yang ada di tingkat Kecamatan dan Kelurahan yang mengatakan pertahanan ekonomi masih cukup baik, karena harga-harga hasil komoditi pertanian dan komoditi lainnya masih ccukup bagus,” jelas Sarundajang. Namun diakuinya, untuk saat ini ada beberapa beberapa komoditi yang harganya mulai menunjuk-kan kenaikkan. “Tapi ini bukan menjadi ukuran untuk mengatakan bahwa ekonomi kita ikut ter-guncang. Sebab, kenaikan harga tersebut hanya terjadi pada 1 atau 2 komoditi saja. Bahkan, ini menjadi pemicu dalam pening-katan produksi pertanian yang ada saat ini guna lebih baik lagi,” tandas Sarundajang. Lebih lanjut dikatakannya, selain kekuatan ekonomi yang bersum-ber dari sektor pertanian, daerah ini juga memiliki kekuatan besar lainnya yakni sektor pariwisata. Bahkan, perkembangan dan peningkatan sektor ini semakin hari semakin membaik. Hal ini juga membuktikan ekonomi Sulut berkembang dan menggeliat. “Walaupun memang ada bebe-rapa hal yang cukup mempenga-ruhi, terutama dibidang ekonomi yang ada hubungannya secara internasional, seperti penanaman modal oleh pihak-pihak asing di daerah ini. Inilah yang akan saya laporkan kepada Presiden RI Sosilo Bambang Yudhoyono da-lam pertemuan yang akan digelar besok (hari ini,red) di Jakarta, yang juga diikuti oleh para Gubernur se Indonesia,” tuturnya seraya mengatakan bahwa pertemuan dengan Presiden SBY ini untuk mendapatkan pengarahan tetang mengantisipasi serta mengaha-dapi krisis ekonomi global tersebut. Khusus untuk bidang eksport import, Sarundajang mengatakan, pihaknya masih akan melakukan sejumlah kajian untuk mengukur seberapa jauh pengaruh yang diakibatkan oleh terjadinya krisis ekonomi global. “Ini akan dikaji karena krisis ini kan baru terjadi. Kalau seperti krisis moneter yang terjadi waktu lalu, sejumlah ko-moditi yang ada justru mengalami peningkatan harga. Nah, ini cukup menguntungkan masyarakat pe-tani komoditi-komoditi tersebut,” katanya. PLKA Sementara itu, Pasar Lelang Komoditi Agro (PLKA) yang dilaksanakan setiap bulannya oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sulut, akan tetap terus berjalan seperti biasa meskipun ada ancaman krisis perekonomian global. “Pada akhir oktober 2008 ini direnca-nakan berlangsung, kemudian pada bulan nopember atau de-sember satu kali lagi,” ujar Kepala Sub Dinas Perdagangan Dalam Negeri, Janny Rembet SE kepada sejumlah wartawan baru-baru ini. Manurut Rembet, perdagangan forward ini telah memberikan manfaat besar baik kepada para pelaku usaha maupun petani dan industri kecil karena buyers atau pembeli bisa memperoleh bahan baku secara mudah dengan standar kualitas yang diinginkan-nya serta terjamin kontinuitasnya. Sebaliknya bagi petani, nelayan dan industri kecil, melalui kegiatan tersebut, mereka mendapatkan alternatif pasar potensial setelah sebelumnya selalu mengeluh soal akses pasar. “Contohnya untuk pasar swalayan dimana sebelum adanya kegiatan PLKA, mereka mengaku sangat sulit memperoleh gula merah. Tapi sejak event ini digelar, maka bisa didapatkan secara mudah dalam jumlah banyak sesuai dengan permintaan pasar,” katanya. Hingga saat ini pelaksanaan PLKA Sulut telah berlangsung sebanyak 29 kali dengan jumlah transaksi mencapai kurang lebih Rp329,68 miliar. Omzet tertinggi selama pelaksanaan PLKA Sulut sebesar Rp51,83 miliar terjadi pada periode ke-24 yang berlangsung pada 10 oktober 2007, dengan 11 komoditi yang ditransaksikan. Adapun komoditi yang sudah menjadi langganan transaksi di PLKA Sulut diantaranya kentang, coklat, pala, ikan betutu, ikan layang, kopra, jagung, ikan nila, ikan mas, gula merah, dodol salak, dan beberapa komoditi industri kecil lainnya. PETANI KELAPA MULAI RESAH Petani kelapa di Sulut mulai merasakan gejolak perekonomian global menyusul jatuhnya harga jual kopra akibat kurangnya permintaan dari beberapa negara pengimpor. “Permintaan Crued Palm Oil (CPO) atau minyak sawit kasar sekarang ini dari beberapa negara mulai turun sebagai dampak akibat dari nilai jual yang mulai berangsur turun dan hal tersebut juga berpengaruh pada harga kopra. Buktinya, permintaan minyak kelapa dari pihak pabrikan maupun eksportir mulai berkurang sehingga memukul harga kopra ditingkat lokal,” ujar salah seorang petani kelapa di Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Anis Rumbay kepada sejumlah wartawan, Selasa (14/10) kemarin. Harga kopra tingkat petani mulai turun hingga mencapai Rp420 ribu per kuintal dan merupakan nilai terendah sejak enam bulan terakhir. Penurunan harga kopra secara tajam tersebut membuat hasil dari perkebunan kelapa tidak mampu lagi membiayai seluruh biaya hidup sehari-hari petani. “Hasil penjualan penjualan tidak diterima utuh, sebab 50 persen dibayarkan kepada buru pengolah kelapa jadi kopra, jadi dalam satu kuintal diterima petani hanya Rp210 ribu,” katanya. Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sulut (Apeksu), Emil Mamesah, mengatakan, petani wajar merasa khawatir dengan penurunan harga kopra, sebab sebagian besar petani kelapa Sulut justru memiliki lahan relatif kecil yakni 0,5 hektar hingga 1 hektar. “Dalam satu hektar rata-rata hanya 100 pohon kelapa, bila berproduksi maksimal diperoleh 300 kilo setara kopra, dengan harga saat ini maka petani hanya menerima setengah atau Rp630 ribu,” kata Mamesah. Uang Rp630 ribu tersebut, kata Mamesah, merupakan pengha-silan selama 3 bulan sebab pro-duksi tanaman ini pada rentang waktu itu, atau sama artinya pendapatan per bulan Rp210 ribu yang diterima bersih petani. “Jumlah tersebut hanya cukup untuk membeli beras guna kebutuhan keluarga dengan 2 orang anak, sementara biaya lainnya harus dicari dari sumber lain, oleh karena itu wajar bila petani selalu kuatir bila harga turun,” katanya. Produksi kelapa Sulut diperkirakan berkisar 260-300 ribu ton setiap tahun, menghidupi 100 ribu hingga 200 ribu kelapa keluarga yang selama ini me-nyandarkan hidupnya dari tana-man itu.(erer/gebe) |