|
Jakarta—Bursa saham dunia, memperlihatkan kegairahan pada perdagangan Senin (13/10) dan Selasa (14/10) kemarin. Investor menyambut positif berbagai kebijakan dan langkah darurat yang diambil pemerin-tah di seluruh dunia, untuk memerangi krisis finansial global, dan meningkatkan keper-cayaan.
Akibatnya, indeks harga saham meningkat fantastis. Di Bursa Wall Street, New York, Indeks Dow Jones melambung 936,42 poin (11,08 persen) dan ditutup di posisi 9.387,61 pada Senin. Penguatan indeks terse-but adalah yang terbesar dalam kurun 75 tahun terakhir, atau se-jak 1933, selama hari-hari terbu-ruk dalam depresi besar di AS. Kenaikan tersebut sekaligus menghentikan rentetan pe-nurunan dalam delapan sesi sebelumnya. Sepanjang pekan lalu, Dow Jones telah jatuh 18 persen. Lonjakan indeks juga terjadi di bursa saham Eropa. Indeks FTSE di London juga ditutup menguat 324,84 poin (8,26 per-sen) ke posisi 4.256,90. Demikian halnya di Prancis, Indeks CAC 40 naik 355,01 poin (11,18 persen) ke posisi 3.531,50. Sementara itu, di Jerman, Indeks DAX menguat 518,14 poin (11,40 persen) ke posisi 5.062,45. Bergairahnya perdagangan saham berlanjut pada Selasa. Indeks Nikkei di Bursa Tokyo, mengakhiri perdagangan sesi pagi dengan menguat 1.079,13 poin (13,04 persen) ke posisi 9.355,56. Di bursa saham Asia Pasifik lain-nya, seperti di Hong Kong, Indeks Hang Seng menguat 514,16 poin (3,15 persen) ke posisi 16.826,32. Indeks Kospi di Korea Selatan juga naik 60,21 poin (4,67 persen) ke posisi 1.348,79. Sementara itu, di Singapura, Indeks Straits Times naik 115,74 poin (5,57 persen) ke posisi 2.192,09. Di Australia, indeks me-nguat 169,8 poin (4,1 persen) ke posisi 4.311,7. Di Jakarta, indeks harga saham gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan yang ter-jadi pada hari pertama perdaga-ngan (Senin) pasca-suspensi sejak Rabu (8/10) pekan lalu. Saat perdagangan saham dibuka, IHSG bergerak di zona positif dan me-nguat hingga lebih dari 5 persen. Hingga pukul 11.00 WIB, IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk sementara menguat 93,342 poin (6,39 persen) ke posisi 1.555,215. Investor tampak agresif memburu saham, sehingga volume transaksi mencapai 1,024 miliar saham, dengan frekuensi 21,283 kali senilai Rp 833,4 mi- liar. Penguatan IHSG dipicu aksi beli terhadap saham-saham unggulan, terutama dari emiten (perusahaan tercatat) BUMN. Rata-rata saham unggulan dan BUMN mengalami kenaikan harga 9 persen lebih. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik Rp 650 (9,85 persen) menjadi Rp 7.250, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) naik Rp 170 (9,77 persen) ke harga Rp 1.910, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik Rp 110 (9,57 persen) menjadi Rp 1.260. Beberapa saham bahkan mengalami auto rejection (peng-hentian order jual dan beli) secara otomatis, karena mengalami kenaikan harga di atas 10 persen. Hal itu dialami saham PT Timah Tbk (TINS) yang naik Rp 120 menjadi Rp 1.320, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik Rp 60 ke harga Rp 660. Menurut Assistant Research PT HD Capital Tbk, Fikryah NH, penguatan IHSG dan sejumlah indeks di bursa global dipicu op-timisme baru terhadap sejumlah langkah yang dilakukan beberapa bank sentral untuk mengantisipasi krisis keuangan global. “Buyback (pembelian kembali, Red) saham oleh beberapa emiten turut ber-peran bagi penguatan IHSG,” kata Fikryah. Berdasarkan catatan Badan Pe-ngawas Pasar Modal dan Lem-baga Keuangan (Bapepam-LK), ada 12 emiten yang berminat mela-kukan buyback. Ke-12 emiten ter-sebut, telah mendaftarkan diri hingga batas waktu yang ditetap-kan Bapepam-LK, yakni pada 12 Oktober 2008 pukul 17.00 WIB. Ke-12 emiten itu, di antaranya PT Aneka Tambang Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT jasa Marga Tbk, PT Sampoerna Agro Tbk, dan PT Surya Citra Media Tbk. Jika pada perdagangan Senin, saham-saham sektor konsumer dan infrastruktur yang menjadi pemicu menguatnya IHSG, pada perdagangan Selasa, kenaikan IHSG terutama dipicu aksi beli selektif yang dilancarkan investor terhadap saham sektor pertam-bangan dan finansial. Kenaikan harga saham di ber-bagai bursa dunia dipicu oleh ke-bijakan meyakinkan pemerintah dan bank sentral. Para pimpinan pemerintahan dan bank sentral negara-negara G-7, dalam perte-muan di Washington sepakat menyediakan dana tak terbatas bagi perusahaan finansial, bank maupun sekuritas, untuk menjaga likuiditas. Di AS, pemerintah se-tempat akan mengeluarkan dana US$ 250 miliar, yang merupakan bagian dari paket bailout US$ 700 miliar, untuk membeli saham di bank-bank swasta di negara tersebut. Presiden AS, George W Bush direncanakan mengumum-kan kebijakan itu pada Selasa (14/10) waktu setempat. Sejauh ini Pemerintah AS meno-lak menjelaskan secara terperinci langkah yang akan ditempuh itu, termasuk besarnya dana yang akan diterima masing-masing bank. Yang pasti pemerintah akan membeli saham sembilan bank besar, seperti Citigroup, Wells Fargo, JP Morgan & Chase, Bank of America Corp, dan Morgan Stanley. Secara terpisah, Ketua DPR AS Nancy Pelosi, mengata-kan, menjelang akhir 2008, Kong-res AS akan kembali mempertim-bangkan paket stimulus baru ber-nilai miliaran dolar, yang disebut dalam rangka pembangunan kembali AS. Komite DPR akan memulai sejumlah seri dengar pendapat untuk mengeksplorasi kemungkinan dibuatnya paket stimulus kedua dengan nilai sekitar US$ 150 miliar.(spem) |